Umum

Bolehkah Memasang Batu Nisan ? Bagaimana Hukumnya dalam Islam ?

×

Bolehkah Memasang Batu Nisan ? Bagaimana Hukumnya dalam Islam ?

Share this article
batu nisan

Bolehkah Memasang Batu Nisan ? Bagaimana Hukumnya dalam Islam ?

kuburan, batu nisan, kematian, ditinggalkan, makam, tua, menghantui, liar |  Piqsels

 

Bagi masyarakat Indonesia, batu nisan banyak dipasangkan di atas makam sebagai tanda untuk mempermudah sanak saudara ketika melakukan ziarah kubur. Biasanya, di atas batu nisan terdapat identitas jenazah, seperti tulisan nama almarhum/almarhumah, tanggal lahir, dan tanggal wafatnya. Batu nisan adalah penanda kuburan yang dipasang di ujung makam.

Memasang batu nisan dalam Islam sering kali menjadi pertanyaan terkait kebolehannya. Lantas, seperti apa hukum memasang batu nisan dalam Islam? Berikut ini penjelasannya.

Hukum Memasang Batu Nisan dalam Islam
Ada dua pendapat dari imam besar mazhab yang menjawab terkait hukum memasang batu nisan dalam Islam.

Mengutip dari Kitab Fiqhul Islam wa Adillatuhu Juz 2 yang ditulis oleh Wahbah az-Zuhaili, memasang batu nisan menurut Mazhab Maliki hukumnya makruh, bahkan hanya untuk menulis nama mayat tersebut.

Selain itu, menulis ayat Al-Qur’an pada kuburan menurut Mazhab Maliki hukumnya diharamkan. Perkara ini bersandar pada hadits yang diriwayatkan oleh Jabir RA:

Baca Juga :   34 Contoh Rumah Adat Daerah Seluruh Indonesia Nama Beserta Asal Daerah/ Provinsi

نَهَى رَسُولُ اللهِ ﷺ عَنْ تَحْصِيصِ الْقُبُورِ وَأَنْ يَكْتُبَ عَلَيْهَا وَأَنْ يَيْنِي عَلَيْهَا

Artinya: “Rasulullah SAW melarang untuk mengecat kuburan atau menuliskan padanya atau membuat bangunan di atasnya.” (HR Muslim)

Sementara itu, Mazhab Hanafi dan Hambali berpendapat, boleh saja memplester kuburan dan menuliskan nama jenazah pada kuburan apabila dibutuhkan agar penandanya tidak hilang dan terabaikan.

Pendapat tersebut dikuatkan oleh hadits yang ditakhrij oleh Abu Dawud dengan sanad yang baik, bahwa Rasulullah SAW pernah membawa batu, lalu meletakkannya di sisi kepala Utsman bin Madz’un seraya bersabda:

أَتَعَلَّمُ بِهَا قَبْرَ أَخِي وَأَدْفِنْ إِلَيْهِ مَنْ مَاتَ مِنْ أهلي

Artinya: “Aku memberi tanda pada kuburan saudaraku dan aku akan menguburkan bersamanya orang yang meninggal dari keluargaku.”

Pendapat yang memperbolehkan memberikan tanda pada kuburan ini juga bersandar pada riwayat Anas RA, bahwa Nabi SAW memberikan tanda pada kuburan Utsman bin Mazh’un dengan batu, yaitu diletakkan pada batunya agar dapat dikenali kuburannya. (HR Ibnu Majah). Ulama Syafi’iyah Sayyid Sabiq mengatakan dalam Kitab Fikih Sunnah-nya bahwa benda yang dapat digunakan sebagai tanda adalah batu atau kayu.

Baca Juga :   Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi PPPK Tenaga Teknis 2022

Menurut Wahbah az-Zuhaili, larangan untuk memasang nisan atau memberi tulisan pada kuburan lebih ditujukan bagi orang yang tidak berkepentingan dan menulis tanpa adanya alasan.

M. Syafi’i Hadzami dalam Kitab Taudhihul Adillah turut menyatakan bahwa membangun sesuatu di atas kuburan di tanah milik sendiri tanpa ada sesuatu kebutuhan hukumnya makruh. Dalil terkait hal ini, merujuk penjelasan dalam Kitab Fathu al-Mu’in pada Hamisi I’anatu at-Talibin, juz ke-II yang menyatakan,

وَكُرِهَ بِنَاءٌ لَهَا أَيْ لِلْقَبْرِ أَوْ عَلَيْهِ لِصِحَّةِ النَّهْيِ عَنْهُ بِلَاحَاجَةٍ كَخَوْفِ نَبْشِ أَوْ حَفْرِ سَبُعِ أَوْ هَدْمِ سَيْلٍ، وَمَحَلَّ كَرَاهَةِ الْبِنَاءُ إِذَا كَانَ بِمِلْكِهِ فَإِنْ كَانَ بِنَاءُ نَفْسِ الْقَبْرَ بِغَيْرِ حَاجَةٍ مِمَّا مَرَّ أَوْ نَحْوِ قُبَّةٍ عَلَيْهِ بِمُسَيَّلَةٍ وَهِيَ مَا اعْتَادَ أَهْلُ الْبَلَدِ الدَّفْنَ فِيْهَا عُرِفَ أَصْلُهَا وَمُسَبِّلُهَا أَمْ لَا أَوْ مَوْقُوْفَةٌ حَرُمَ

Baca Juga :   Contoh Surat Keterangan Keimigrasian / SKIM

Artinya: “Dan dimakruhkan membangun kuburan di atas kuburan, karena sah larangan darinya tanpa sesuatu kebutuhan, seperti takut digali binatang buas atau diruntuhkan air bah. Dan makruh tempat membangun itu, apabila itu miliknya. Maka jika membangun dari kubur tanpa sesuatu kebutuhan dari apa-apa yang tersebut atau membangun suatu kubah di atasnya pada tanah yang disabilkan, yaitu tanah yang telah terbiasa ahli negeri menguburkan padanya, sama saja diketahui asalnya dari orang yang menyabilkannya atau tidak, pada tanah wakaf hukumnya adalah haram.”

Adapun hikmah dari dimakruhkannya perkara ini menurut Sayyid Sabiq dalam Kitab Fiqih Sunnah 2, yaitu karena kuburan merupakan tempat bangkai, bukan tempat makhluk hidup. Mengecat atau membangun sesuatu di atas kuburan dikatakan sebagai perhiasan dunia sehingga hal tersebut tidak dibutuhkan oleh mayat.

Demikian penjelasan terkait hukum memasang batu nisan dalam Islam. Mayoritas dari para ulama memakruhkan perkara tersebut, tetapi ada pula yang membolehkan apabila dibutuhkan sebagai penanda agar kuburannya tidak hilang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Belanja Shopee Mom & Kids