Umum

Pengertian Inflasi : Penyebab Inflasi, Dampak Inflasi Beserta Contohnya

×

Pengertian Inflasi : Penyebab Inflasi, Dampak Inflasi Beserta Contohnya

Share this article
Pengertian Inflasi, Penyebab dan Contohnya
Pengertian Inflasi, Penyebab dan Contohnya

Inflasi bukanlah sesuatu hal yang sangat jarang didengar. Hal ini sering sekali muncul dan dibicarakan ketika membahas mengenai perekonomian negara secara meluas. Jika diperhatikan, membicarakan inflasi ini juga pasti membicarakan tentang kenaikan harga barang dan nilai mata uang suatu negara. Dalam artikel kali ini, akan membahas mengenai segala macam hal yang berkaitan erat dengan inflasi.

Sebagai pembuka, salah satu jurnal internet Wikipedia memberikan ulasan singkat mengenai pengertian inflasi, yaitu:

inflasi adalah sebuah proses meningkatnya harga-harga secara umum dan berlangsung secara terus-menerus dengan mekanisme pasar yang bisa dikarenakan oleh berbagai faktor.

Tidaknya Wikipedia, di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pun menjelaskan secara singkat mengenai pengertian inflasi itu sendiri. Menurut KBBI, inflasi adalah sebuah keadaan yang mengakibatkan kemerosotan nilai uang (kertas) disebabkan karena banyaknya dan cepatnya uang (kertas) beredar di pasar perekonomian yang dapat menimbulkan naiknya harga-harga barang.

Meski dari dua pengertian tersebut cukup jelas, namun selanjutnya akan dibahas secara lebih luas dan terperinci mengenai inflasi mulai dari pengertian menurut para ahli, penyebab inflasi, contoh inflasi, dampak inflasi, faktor yang menyebabkan inflasi, hingga bagaimana cara negara mengendalikan laju inflasi. Simak terus ya!

Pengertian Inflasi Menurut Para Ahli

Penjelasan mengenai inflasi secara umum mungkin sudah cukup jelas dan mencakup tentang pengertian inflasi secara menyeluruh. Namun, untuk lebih memperdalam pemahaman tentang inflasi itu sendiri, berikut beberapa pendapat dari para ahli mengenai pengertian inflasi.

  1. Gerald J. Thuesen dan W. J. Fabrycky

Inflasi adalah suatu peristiwa yang dialami oleh semua negara di dunia, bahkan negara maju sekalipun. Keduanya mengungkapkan jika inflasi ini merupakan sebuah keadaan yang menggambarkan sebuah perubahan drastis mengenai tingkat harga di sebuah perekonomian suatu negara.

  1. Winardi

Winardi menjelaskan jika inflasi adalah sebuah periode di masa-masa tertentu yang terjadi ketika suatu kekuatan dalam membeli secara kesatuan moneter mengalami penurunan kemampuan. Hal ini bisa terjadi dikarenakan nilai uang yang didepositikan akan beredar lebih banyak dibandingkan dengan jumlah ataupun jasa yang ditawarkan.

  1. Weston dan Sopeland

Menurut kedua ahli tersebut, Weston dan Sopeland mengatakan jika inflasi ini adalah suatu keadaan yang tidak bisa dihindarkan di bidang ekonomi dimana suatu kenaikan di tingkat harga yang paling tinggi yang tidak bisa dicegah maupun dikendalikan kembali.

  1. Sukirno

Cukup singkat, S. Sukirno memberikan penjelasannya tentang inflasi yang merupakan suatu proses saat terjadi kenaikan harga yang dapat berpengaruh terhadap perekonomian suatu negara.

  1. Rimsky K. Judisseno

Salah seorang ahli, Rimsky K. Judisseno mengungkapkan jika inflasi merupakan suatu keadaan moneter yang mengakibatkan kenaikan harga suatu barang-barang pada umumnya. Hal ini bisa dikatakan secara singkat bahwa nilai mata uang sedang mengalami tingkat penurunan nilai.

  1. Rahardja

Salah satu orang yang memberikan penjelasan mengenai pengertian inflasi adalah Rahardja. Menurutnya, suatu inflasi adalah suatu kecenderungan atas harga pada suatu barang ataupun jasa yang berguna secara terus-menerus. Ketika suatu barang ini mengalami kenaikan juga akan mempengaruhi kenaikan harga barang pada umumnya, hal tersebutlah yang dinamakan dengan inflasi.

  1. Nordhaus dan Samuelson

Sangat singkat, Nordhaus dan Samuelson memberikan pernyataan tentang inflasi. Menurut mereka, inflasi ini adalah suatu keadaan yang mengakibatkan kenaikan harga barang ataupun jasa pada umumnya.

  1. Nopirin

Secara ringkas, Nopirin menjelaskan jika inlfasi ini merupakan sebuah proses kenaikan nilai atau harga secara umum dan bergerak naik secara terus-menerus dalam jangka waktu yang singkat. Inlfasi ini umumnya terjadi pada barang-barang primer yang dibutuhkan sehari-hari oleh masyarakat luas.

  1. Nanga

Suatu inflasi yang muncul ini merupakan suatu gejala yang mengakibatkan tingkat dari satu harga mengalami kenaikan secara umum dan terus menerus. Lebih lanjut lagi, ia menjelaskan bahwa jika harga tersebut mengalami kenaikan hanya satu kali masa saja, maka keadaan tersebut tidak bisa dikatakan sebagai sebuah inflasi.

  1. Eachern

Salah seorang ahli bernama Mc. Eachern menjelaskan jika inflasi ini adalah sebuah keadaan yang dialami suatu negara dimana suatu nilai secara rata-rata mengalami kenaikan terus-menerus. Apabila, kenaikan harga ini berfluktuasi atau naik-turun yang artinya jika bulan ini nilai barang atau jasa mengalami kenaikan, tapi bulan selanjutnya mengalami penurunan maka tidak bisa disebut sebagai suatu inflasi.

  1. Marcus

Secara singkat, Marcus memberikan pendapatnya mengenai pengertian inflasi yaitu ketika suatu nilai barang ataupun jasa secara umum mengalami kenaikan. Terjadinya kenaikan ini secara umum dan menyeluruh serta sangat berdampak terhadap kestabilan ekonomi jika tidak segera ditangani dengan baik.

  1. Dwi Eko Waluyo

Sedikit ekstrem, Dwi Eko Waluyo mengungkapkan jika sebuah inflasi merupakan penyakit-penyakit ekonomi yang dialami hampir oleh semua negara di dunia yang mengakibatkan kecenderungan akan kenaikan harga-harga secara umum dan terjadi terus-menerus. Jika sebuah inflasi tidak ditangani serius, maka kenaikan harga tidak akan terkontrol.

  1. P. Lahnerinflasi

Terakhir adalah seseorang bernama A.P. Lahnerinflasi yang memberikan pernyataan singkatnya mengenai makna dari inflasi. Menurutnya, inflasi adalah suatu keadaan dimana permintaan atas barang-barang di suatu perekonomian telah berlebih secara menyeluruh. Lebih sederhananya, permintaan barang meningkat melebihi ketersediaan barang yang ada.

Dari ketigabelas pendapat para ahli tersebut, bisa disimpulkan jika sebuah inflasi ini sangat berpengaruh terhadap nilai mata uang suatu negara. Selain kenaikan harga secara terus-menerus, inflasi juga diakibatkan permintaan barang yang melebihi kapasitas ketersediaan barang ataupun jasa. Suatu keadaan tidak bisa dikatakan sebagai inflasi jika kenaikan harga tersebut hanya terjadi satu kali dalam kurun satu masa ataupun juga jika harga tersebut mengalami fluktuasi yang artinya mengalami kenaikan dan penuruan harga dalam satu masa yang sama.

Lebih jelasnya lagi, suatu keadaan bisa disebut sebagai inflasi jika meneuhi minimal tiga syarat inflasi dibawah ini:

  1. Terdapat kenaikan harga. Kondisi ini adalah ketika harga barang atau jasa secara umum mengalami peningkatan nilai jual (harga) atau harganya lebih tinggi daripada periode waktu sebelumnya.
  2. Bersifat umum. Artinya, kenaikan harga ini dialami oleh komoditas yang dibutuhkan atau digunakan oleh masyarakat secara luas, bukan hanya pada satu komoditas saja.
  3. Berlangsung terus-menerus. Berarti, harga dari produk tersebut mengalami kenaikan secara terus-menerus dan kenaikan harga ini berlangsung relatif lama. Tidak bisa dikatakan inflasi jika kenaikan harga muncul di momen-momen tertentu seperti halnya kenaikan harga sembako saat menjelang hari raya.
Baca Juga :   Kumpulan Nama Bayi Laki-Laki Terlengkap

Faktor Penyebab Inflasi

Penyebab Inflasi Adalah – Inflasi tidak terjadi secara mendadak dan tanpa alasan atau faktor yang melatarbelakanginya. Umumnya terdapat lima faktor yang dapat mengakibatkan inflasi ini terjadi. Berikut kelima faktor beserta penjelasannya mengenai penyebab terjadinya inflasi.

  1. Faktor Permintaan (Demand full inflation)

Salah satu penyebab terjadinya inflasi yang pertama adalah tentang adanya faktor permintaan dari masyarakat. Permintaan terhadap barang ataupun jasa ini sangat besar hingga mengakibatkan permintaan berlebih dari suatu kelompok masyarakat yang ingin memanfaatkan lebih banyak barang dan jasa yang tersedia di pasaran padahal penawaran yang diberikan tetap atau tidak ada penambahan. Karena keinginan dan permintaan berlebih, namun tidak diimbangi dengan penawaran yang juga ditingkatkan, maka harga dari barang atau jasa tersebut naik secara terus menerus.

  1. Faktor Bertambahnya Uang yang Beredar (Quantity Theory Inflation)

Ada salah satu faktor yang mengatakan bahwa harga barang secara umum bisa mengalami kenaikan secara terus-menerus dikarenakan jumlah uang yang berbedar di masyarakat secara keseluruhan. Faktor ini diuangkapkan oleh kaum klasik yang menyatakan jika ada keterkaitan antara jumlah uang yang beredar dengan harga-harga. Misalkan jika uang yang beredar jumlahnya dua kali lipat lebih besar daripada yang seharusnya, maka harga barang pun akan terpengaruh dan menjadi mahal sebanyak dua kali lipat.

  1. Faktor Kenaikan Biaya Produksi (Cost Push Inflation)

Faktor yang ketiga adalah tentang kenaikan biaya produksi yang juga bisa mempengaruhi harga suatu barang secara umum dipasaran yang luas. Umumnya hal ini disebabkan karena adanya dorongan biaya produksi dalam jangka waktu tertentu secara terus-menerus. Kenaikan biaya produksi ini juga diakibatkan desakan biaya faktor produksi yang terus mengalami kenaikan. Hal-hal seperti ini umumnya sangat sulit untuk dihidari.

  1. Faktor Campuran (Mix Inflation)

Masih ada hubungannya dengan faktor pertama terjadinya inflasi. Hanya saja pada faktor campuran yang menyebabkan inflasi ini adalah adanya kenaikan dari penawaran maupun permintaan barang ataupun jasa. Ketika permintaan barang bertambah, sehingga menyebabkan ketersediaan barang dan faktor produksi menurun sementara pengganti atau substitusi barang dan jasa terbatas hingga tidak ada sehingga keadaan menjadi tidak seimbang. Maka harga barang ataupun jasa ini akan naik.

Jika inflasi ini terjadi akan sedikit sulit untuk dikendalikan ketika kenaikan supply alam siayi barang atau jasa ini lebih tinggi. Setidaknya, haruslah setara dengan permintaan. Sehingga, harga barang ataupun jasa tersebut bisa kembali menjadi normal.

  1. Faktor Struktural Ekonomi yang Kaku (Structural Theory Inflation)

Faktor yang kelima ini sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan penduduk yang cepat sehingga mengakibatkan permintaan barang ataupun jasanya pun menjadi tinggi. Padahal bagi para produsen juga mengalami kesulitan untuk mengimbangi faktor produksi dengan permintaan yang terus meningkat karena jumlah penduduk yang terus saja bertambah. Akhirnya permintaan menjadi sulit untuk dipenuhi dan harga barang ataupun jasa tersebut menjadi naik.

Contoh Inflasi di Luar Negeri

Setiap negara di belahan dunia manapun pasti mengalami inflasi. Inflasi memang bukan hal yang bisa dihindari 100% tetapi tingkat inflasi masih bisa dikendalikan. Berikut beberapa inflasi terparah yang pernah terjadi yang berasal dari luar Indonesia:

  1. Negara Hongaria pada Agustus 1945 – Juli 1946 mengalami hiperinflasi sebesar 207% setiap harinya. Sehingga, pada masa itu perubahan harga berubah dua kali lipat setiap 15 jam sekali. Ekonomi negara Hongaria ini hancur dikarenakan Perang Dunia II dan negara tersebut menjadi salah satu warzone atau area berperang yang mengakibatkan lebih dari 40% dari modal saham di negara tersebut hancur.
  2. Negara kedua yang pernah mengalami hiperinflasi yaitu Zimbabwe. Negara ini pernah mengalami inflasi harian hingga 98% perharinya pada Maret 2007 samapai November 2008 yang mengakibatkan harga bisa berubah menjadi dua kali lipat lebih tinggi setiap 25 jam. Inflasi ini terjadi karena adanya penurunan grinding panjang di dalam output ekonomi mereka sesuai dengan reformasi tanah Robert Mugabe di tahun 2000-2001.
  3. Selanjutnya negara Yugoslavia pun pernah mengalami inflasi besar-besaran pada April 1992 hingga Januari 1994. Saat itu, inflasi yang dihadapi mencapai 65% yang membuat harga bisa naik dan berubah sebanyak dua kali lipat hanya dalam kurun waktu 34 jam. Hal ini dikarenakan Uni Soviet jatuh dan menyebabkan peran Internasional menurun kepada Yugoslavia yang dampaknya membuat Yugoslavia mengalami perpecahan menjadi negara etnis dan perang. Keadaan tersebut diperparah karena perdagangan antara wilayah bekas Yugoslavia runtuh.
  4. Siapa sangka jerman juga pernah mengalami inflasi tinggi pada Agustsu 1922 sampai Desember 1923 tepatnya di Weimar, Jerman. Meski tingkat inflasi harian hanya 21% perhari dan mengakibatkan perubahan harga sebanyak dua kali lipat setiap tiga hari 17 jam, inflasi ini tetap mempengaruhi kesejahteraan dan kestabilan ekonomi bagi Jerman. Tingkat inflasi yang terjadi di Weimar, Jerman ini diikuti oleh kekalahan di dalam Perang Dunia I beberapa tahun sebelumnya. Akibat perang tersebut, Jerman harus membayar reparasi besar untuk menebus biaya yang dikeluarkan pihak pemenang perang.
  5. Kemudian ada negara Yunani yang pernah mengalami inflasi sebesar 18% perhari pada Mei 1941 hingga Desember 194. Inflasi yang terjadi ini mengakibatkan peningkatan harga secara umum sebesar dua kali lipat setiap 4 hari 6 jam. Keseimbangan perekonomian Yunani ini sangat dipengaruhi oleh Perang Dunia II yang mengakibatkan surplus 271 juta dirham di tahun 1939 menjadi defisit 790 juta dirham pada 1940 dan juga karena perdagangan luar negeri Yunani turun derastis.

Contoh Inflasi di Indonesia

Selain negara-negara tetangga di dunia yang pernah mengalami inflasi besar-besaran, Indonesia pun pernah mengalami hiperinflasi yang tidak kalah tingginya. Kejadian hiperinflasi ini terjadi pada tahun 1963-1965 atau pada akhir masa orde lama tepatnya di era Demokrasi Terpimpin yang masih di pimpin oleh Preside Republik Indonesia Pertama yaitu Ir. Soekarno.

Kala itu, Presiden Soekarno terkenal dengan ambisi besarnya untuk mendirikan mega proyek seperti mendirikan bangunan-bangunan yang mewah sebagai bentuk perkembangan bangsa Indonesia. Di masa kepemimpinannya, beliau mencetak rupiah hingga inflasi saat itu mencapai 600% yang menjadikan pada tanggal 13 Desember 1965 pemerintah melakukan pemotongan nilai rupiah dari 1000 rupiah menjadi 1 rupiah. Beberapa contoh inlfasi lain yang terjadi di Indonesia dan dekat dengan kehidupan sehari-hari ini seperti:

Baca Juga :   Kapan Batas Waktu Ganti Utang Puasa Ramadhan? Begini Penjelasannya

1. Kenaikan BBM di Indonesia

Bukti Inflasi Kenaikan Harga BBM Secara Masa ke Masa

 

Salah satu bentuk inflasi yang paling dirasakan oleh masyarakat Indonesia ini ketika kenaikan BBM di Indonesia terjadi secara nasional. Hal ini dipicu karena permintaan masyarakat terhadap BBM naik, namun tidak diimbangi dengan penawaran yang sesuai. Saat itu, harga minyak dunia meningkat sehingga pemerintah tidak bisa memberikan harga yang sama lagi kepada masyarakat. Akibatnya, ketersediaan BBM menurun dan menjadikannya lebih mahal daripada sebelumnya. Apabila pemerintah Indonesia memberikan harga yang sama, maka APBN pun akan membengkak. Jika begitu, pajak yang harus dibayarkan rakyat menjadi semakin tinggi.

BBM sudah menjadi bahan bakar pokok tidak hanya untuk pribadi namun juga beberapa sektor usaha lainnya. Oleh karena itu, apabila harga BBM naik juga akan dibarengi dengan kenaikan harga bahan pokok lainnya. Naiknya harga produk yang tidak diimbangi dengan pendapatan masyarakat menjadikan daya beli menjadi rendah. Lanjutannya, barang yang diproduksi oleh produsen menjadi tidak laku dan tidak ada yang membelinya.

Kenaikan BBM ini memberikan dampak seperti: inflasi meningkat, biaya hidup menjadi lebih berat, ongkos angkutan umum ikut naik, harga kebutuhan pokok menjadi lebih tinggi, naiknya angka kemiskinan, pertumbuhan ekonomi menjadi semakin terlambat, kesejahteraan masyarakat menjadi menurun.

2. Turunnya nilai Riil kekayaan masyarakat

Turunnya Nilai Riil Kekayaan Masyarakat

Naiknya inflasi pada suatu negara termasuk Indonesia akan menyebabkan nilai mata uang yang berbentuk kas mengalami penurunan nilai karena secara nominal harus meghadapi harga komoditi yang jauh lebih besar. Sebagai contohnya saja, pada akhir tahun 1999 sampai awal 2001 harga minyak tanah hanya Rp 1200 saja perliternya hingga kemudian terus merangkak naik. Saat itu, pemerintah Indonesia memberikan bahan bakar pengganti menjadi elpiji.

Ini hanya satu dari sekian banyak contoh mengenai terjadinya inflasi di Indonesia. Inflasi yang terjadi ini bukan hanya menjadi masalah pemerintah, tetapi juga masyakarakat secara nasional. Oleh karena itu penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana inflasi bisa terjadi, apa dampaknya, dan bagaimana cara menekan laju inflasi itu sendiri.

Sifat-Sifat Inflasi

Pengertian mengenai inflasi dan contoh-contoh inflasi sudah dibahas secara lengkap dan jelas. Inflasi yang terjadi dikarenakan banyak fakto r ini pun memiliki jenis-jenis tersendiri. Salah satunya adalah inflasi yang dilihat dari sifatnya. Terdapat empat kategori inflasi jika dilihat dari sifatnya yaitu: inflasi rendah, menengah, berat, dan inflasi sangat tinggi. Berikut penjelasan lebih lengkapnya!

1. Inflasi Rendah (Creeping Inflation)

Maksud dari inflasi rendah ini adalah ketika pertambahan atau kenaikan harga barang dan jasa secara umum hanya mengalami nilai kenaikan sebanyak kurang dari 10% saja, maka hal tersebut merupakan keadaan inflasi rendah. Dalam hal ini, inflasi memang dibutuhkan dan berdampak baik untuk perekonomian, karena inflasi rendah ini secara tidak langsung akan mendorong pihak penyedia barang atau jasa akan meningkatkan hasil dari produksinya menjadi lebih baik dan lebih banyak.

2. Inflasi Menengah (Galloping Inflation)

Sedangkan untuk inflasi menengah ini adalah inflasi yang besarnya 10%-30% pertahun. Artinya, dalam kurun waktu satu tahun terdapat kenaikan harga yang berkisar antara 10%-30% untuk barang dan jasa secara umum. Apakah tanda-tandanya? Inflasi ini dimulai dengan naiknya harga barang dan jasa dengan cepat dan relatif besar. Pada kondisi ini biasanya akan muncul nama lain yaitu inflasi 2 (dua) digit, misalnya 15%, 20%, dan 30%.

3. Inflasi Berat (High Inflation)

Untuk sebuah inflasi berat yang mungkin akan sangat berpengaruh terhadap kestabilan perekonomian suatu negara ini akan muncul ketika besarnya inflasi mencapai angka 30% – 100% dalam kurun waktu satu tahun. Disadari atau tidak, bahwa inflasi ini pernah terjadi di Indonesia yaitu pada tahun 1960 dimana kenaikan inflasi ini mencapai 600% atau harga barang dan jasa naik hampir 6 kali dari harga semula.

3. Inflasi Tinggi (Hyper Inflation)

Sebuah inflasi yang cukup mengerikan untuk ditangani. Inflasi ini bisa terjadi ketika harga barang dan jasa secara umum mengalami kenaikan secara drastis hingga mencapai 4 digit atau bisa dikatakan inflasi ini berada pada tingkat diatas 100%. Dalam kondisi seperti ini, akan banyak masyarakat yang tidak lagi memiliki simpanan dalam bentuk uang, tetapi akan memilih kekayaan mereka dalam bentuk barang.

Dampak Positif dan Negatif Terjadinya Inflasi

Dampak Inflasi Adalah

Dampak Inflasi Adalah – Benarkah jika terjadi inflasi di sebuah negara akan memberikan dampak postifnya? Sedikit klise, tetapi setiap hal pasti memiliki sisi negative dan positifnya, termasuk adanya inflasi. Pada tingkatan tertentu, terjadinya inflasi memang diperlukan. Namun, pada taraf yang lain pun inflasi bisa sangat berdampak buruk terhadap perekonomian di suatu negara. Berikut akan dibahas mengenai dampak postif dan negative dari terjadinya inflasi.

  • Dampak Positif Terjadinya Inflasi

Meski terdengar sedikit mengerikan ketika membicarakan tentang inflasi, faktanya sebuah inflasi bisa memberikan dampak yang cukup baik dan memang diperlukan dalam sebuah perekonomian negara. Berikut beberapa dampak positif yang bisa diberikan inflasi:

  • Beberapa orang akan merasakan dampak inlfasi ini secara positif. Salah satunya adalah para para peminjam uang dari bank karena uang yang harus mereka kembalikan akan terasa lebih kecil dikarenakan perubahan kenaikan harga secara umum.
  • Selain para peminjam, para produsen juga akan mendapatkan keuntungan yang lebih banyak karena barang yang mereka produksi mengalami kenaikan harga. Keuntungan ini akan dirasakan oleh para produsen yang menghasilkan barang dan jasa yang penting bagi masyarakat luas.

Tentu saja dampak inflasi ini baru bisa dirasakan ketika inflasi mencapai taraf tertentu. Jika berdasarkan penjelasan sebelumnya, inflasi memiliki dampak positif jika hanya berada pada taraf inflasi ringan atau kurang dari 10%. Apabila, inflasi yang terjadi melebihi tingkatan tersebut dan nilai mata uang menjadi sangat turun, akan memberikan efek yang negatif secara perekoniman yang menyeluruh.

  • Dampak Negatif Terjadinya Inflasi

Selain dampak positif, inflasi memang memberikan lebih banyak dampak negatifnya untuk beberapa orang dan kalangan. Berikut beberapa hal negatif yang dialami ketika terjadi inflasi.

  • Untuk para kreditur atau para pemberi pinjaman ini akan merasakan dampak negatifnya. Karena nilai uang yang mereka terima menurun atau menjadi lebih kecil dibandingkan saat mereka meminjamkan uang tersebut kepada para peminjam sebelum terjadi inflasi.
  • Mereka yang berpenghasilan tetap juga akan merasakan dampak negatif dari adanya inflasi ini. Orang-orang berpenghasilan tetap ini seperti PNS, pegawai swasta, polisi, dan tentara akan mendapatkan gaji dengan nilai mata uang yang lebih kecil padahal harga-harga barang naik sementara pendapatan yang mereka terima tidak serta merta langsung mengalami kenaikan. Jika dibiarkan, bahkan tingkat inlfasi yang seperti ini akan membuat taraf kesejahteraan hidup menjadi menurun.
  • Dampak negatif inflasi ini bisa dirasakan secara meluas terutama untuk perekonomian secara nasional suatu negara. Beberapa hal yang bisa terjadi dan berdampak terhadap perekonomian negara ini seperti:
Baca Juga :   √ 2 Cara Meringkas Dokumen Secara Otomatis 100%

Memburuknya distribusi pendapatan ini karena terjadi ketimpangan pendapatan. Dampak positif inflasi ini hanya dirasakan oleh mereka yang memiliki tingkat pendapatan jauh lebih besar daripada laju inflasi yang terjadi saat itu. Namun secara nasional, orang-orang yang memiliki tingkat pendapatan seperti itu hanya sedikit jika dibandingkan dengan mereka yang mengalami kerugian akibat inflasi. Hal inilah yang menjadikan pola pembagian pendapatan di suatu negara menjadi berat dan tidak merata sehingga berdampak terhadap kesejahteraan yang dialaminya juga.

Terganggunya stabilitas ekonomi juga akan dialami oleh negara jika terjadi inflasi. Tentu saja hal ini akan terjadi apabila sebuah inflasi terjadi secara terus-menerus dan tidak bisa ditangani dengan tepat. Jika inflasi terjadi secara terus-menerus, berarti harga-harga akan terus merangkak naik. Apa dampaknya? Para konsumen yang ketakutan kehabisan stok barang kemudian akan melakukan pembelian secara besar-besaran sebelum harga menjadi lebih mahal. Dampak akhirnya adalah ketika permintaan meningkat namun tidak dibarengi dengan penawaran barang yang sesuai.

Karena bagi para produsen tingkat permintaan yang tinggi dengan harga yang tinggi ini menguntungkan mereka, penawaran yang diberikan akan menurun atau dikurangi. Apabila permintaan meningkat dan penawaran menurun justru akan mempercepat laju inflasi.

Cara Mengatasi Inflasi

Cara Mengatasi Inflasi

Laju inflasi yang terjadi haruslah segera ditangani. Jika tidak, maka akan menimbulkan dampak lain yang lebih luas dan bisa berbahaya bagi perekonimian satu negara. Beberapa hal yang bisa dilakukan baik oleh pemerintah dan juga para pebisnis untuk ikut serta mengendalikan laju inflasi ini seperti:

1. Kebijakan Moneter

Kebijakan moneter ini barang kali telah menjadi hal yang sering sekali didengar. Di titik ini, laju inflasi bisa dicegah dengan cara mengatur jumlah mata uang yang beredar yang salah satunya adalah uang giral atau deman deposito. Uang giral ini bisa terjadi dengan dua cara yaitu: apabila seseorang memasukan uang kas mereka ke bank dalam bentuk giro bukan tabungan. Lalu yang kedua adalah dengan memperoleh pinjaman dari bank tetapi juga dalam bentuk giro.

Ada hal lain yang bisa dilakukan yaitu dengan membuka pasar terbuka atau juga disebut dengan jual-beli surat berharga. Bank sentral menjual surat berharganya kepada masyarakat sehingga dapat menekan perkembangan jumlah

2. Kebijakan Fiskal

Kebijakan fiskal ini diambil oleh pihak pemerintah yang memberikan kebijakan dengan cara mengatur permintaan total yang ada di masyarakat yaitu dengan mengatur perpajakan dan pengeluaran pemerintah. Karena pengeluaran pemerintah dan kenaikan pajak ini akan sangat berpengaruh terhadap tingkat permintaan, maka secara tidak langsung bisa menghentikan permintaan. Uang yang harusnya digunakan untuk membeli barang dan jasa yang dibutuhkan, mau tidak mau harus dialokasikan untuk pembayaran pajak dan lain-lain.

3. Kebijakan yang Berkaitan dengan Output

Maksudnya adalah dengan meningkatkan jumlah barang yang beredar dari suatu negara. Kebijakan ini bisa dilakukan pemerintah untuk menekan laju inlfasi. Karena jika barang krusial yang beredar bertambah, kenaikan harga bisa ditekan dengan baik. Cara ini bisa dilakukan dengan menurunkan bea cukai masuk untuk barang-barang dari luar negeri. Dengan mengimpor barang masuk ke dalam negeri dan menambah jumlah barang yang tersedia sehingga dapat menekan laju inflasi.

4. Kebijakan Penentuan Harga dan Indexing

Kebijakan lainnya yang bisa dilakukan pemerintah untuk menekan laju inflasi dan juga mengembalikan kesejahteraan masyarakatnya yaitu dengan memberikan penentuan ceilig harga dan mendasarkan indeks harga tertehtu untuk menyesuaikan gaji ataupun upah. Artinya, jika indeks harga naik maka gaji/upah juga akan ikut naik. Meski demikian, sebenarnya gaji atau upah yang naik itu memiliki nilai riil yang tetap.

5. Efisiensi Biaya Internal

Inflasi juga berdampak khususnya kepada para pengusaha pengahsil produksi barang ataupun jasa. Salah satu cara para produsen tersebut mengatasi inflasi ini bisa dengan cara efisiensi biaya internal. Dengan menekan biaya internal ini, sebuah perusahaan bisa mengurangi beban perusahaan yang harus dikeluarkan. Beberapa biaya internal yang bisa ditekan lebih mudah ini seperti biaya listrik dan biaya administrasi.

6. Menekan Tiga Biaya Pokok

Cara lain yang bisa dilakukan oleh para pengusaha dalam menekan adanya laju inflasi yaitu dengan menekan tiga biaya pokok produksi. Umunya, tiga hal pokok ini seperti: Biaya Produksi, Biaya Operasional, dan Biaya Pemasaran. Inflasi bisa terjadi dikarenakan satu dari ketiganya ataupun dua dari ketiganya dan bisa juga diakibatkan dari ketiga hal tersebut. Oleh karena itu, untuk mencegah adanya inflasi dan menghentika laju inflasi, ketiga hal tersebut harus ditekan sedemikian rupa dan seminimal mungkin.

Bagaimana biaya produksi bisa meningkat? Biaya produksi ini sangat dipengaruhi oleh kenaikan harga bahan baku dan proses distribusi. Apabila satu diantaranya saja mengalami hambatan hingga peningkatan biaya tak terduga, tentu saja bisa mempengaruhi harga barang ataupun jasa yang dihasilkan oleh produsen tersebut.

Untuk biaya operasional ini bisa menghambat dan meningkatkan terjadinya inflasi apabila terjadi kerusakan pada line atau bagian operasional lainnya. Untuk biaya pemasaran, biasanya digunakan untuk mengenalkan produk kepada masyarakat. Biaya pemasaran ini juga digunakan untuk mempengaruhi masyarakat menggunakan produk ataupun jasa yang ditawarkan. Apabila penggunaan biaya pemasaran ini tanpa perhitungan, tentu saja akan mempengaruhi kenaikan harga produk dan sangat bisa membuat jalannya inflasi semakin tinggi.

7. Inovasi dan Variasi

Para pelaku usaha juga bisa melakukan inovasi dan variasi terhadap produk yang mereka hasilkan. Pengaruhnya dalam laju inflasi sangat tinggi karena sangat terkait dengan jumlah produk yang ditawarkan di pasaran. Adanya inovasi dan variasi dari para pelaku usaha mengakibatkan pilihan produk di pasaran menjadi meningkat masyarakat tidak akan hanya terfokus pada satu produk saja tetapi bisa memilih beberapa produk yang sesuai dan mereka butuhkan.

Adanya inovasi dan variasi ini bahkan bisa menjadi jalan baik saat inflasi terjadi karena peningkatan biaya harga bahan baku. Jika bahan baku meningkat, otomatis produk yang dikeluarkan juga akan mengalami peningkatan harga. Oleh karena itu ketika bahan baku mengalami kenaikan harga, pihak produsen harus mampu melakukan efisiensi biaya agar barang produksi tidak mengalami kenaikan yang signifikan. Umumnya, perusahaan akan mengurangi bahan baku sehingga produksi menurun.

Agar harga hasil produksi ini tidak mengalami kenaikan karena penawarannya berkurang, para produsen harus memaksimalkan bahan baku yang ada. Salah satu caranya dengan memiliki inovasi dan variasi yang lebih banyak atau juga bisa dengan membuat suatu produk baru yang belum pernah dibuat sama sekali.

8. Menaikan Harga

Benar jika terjadinya inflasi ini sangat berkaitan erat dengan nilai mata uang dan harga produksi. Tetapi, jika semua hal telah dicoba namun laju inflasi tidak bisa ditekan, salah satu cara yang bisa digunakan adalah dengan menaikkan harga. Peningkatan harga produk ini bisa menjadi alternative yang baik dikarenakan bisa menekan daya beli masyarakat. Jika daya beli masyarakat ini ditekan sedemikian rupa, maka peredaran mata uang juga akan menurun sehingga laju inflasi juga bisa ditekan. Hal ini juga sangat membantu perusahaan untuk tetap berdiri dan bertahan.

Inflasi memang bukan hal yang asing dan bisa terjadi di negara manapun termasuk di Indonesia. Hal ini menjadi hal yang cukup lumrah dan memang harus dipahami dan dimengerti oleh masyarakat. Meski pada tingkatannya yang sangat rendah, inflasi bisa menguntungkan beberapa pihak. Inflasi yang tinggi dan tidak terkontrol sangat merugikan negara dan masyarakat secara nasional karekan perkembangan ekonomi terganggu. Akibatnya, tidak hanya negara saja yang kesusahan tetapi tingkat kesejahteraan masyarakat akan mengalami penurunan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Belanja Shopee Mom & Kids