Teks Anekdot

Teks Anekdot – Saat mendengar teks ankedot, yang terlintas pertama kali bagi sebagian orang adalah teks lucu yang konyol. Tetapi, apa sebenarnya teks anekdot ini? Menurut Wikipedia, teks anekdot adalah sebuah cerita lucu atau menarik, yang mungkin menggambarkan kejadian atau orang sebenarnya.

Teks Anekdot

Awal mulanya, teks anekdot ini menceritakan tentang kisah orang-orang terkenal, atau penokohan yang diceritakan menggunakan orang yang dikenal oleh orang banyak. Meski demikian, seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, teks anekdot bisa dibuat berdasarkan penokohan fiksi atau sebenarnya tidak ada di dunia nyata.

Namun, hal ini tidaklah menjadi masalah asal tanpa mengubah hasil akhir dari tujuan teks anekdot itu sendiri. Betul jika anekdot adalah kisah lucu namun bukanlah lelucon karena tujuan awal dari teks ankedot adalah melakukan kritik atau sindiran terhadap sesuatu hal dengan cara yang lucu dan santai. Agar lebih jelas, perhatikan beberapa pengertian yang diberikan kepada para ahli tentang teks ankdot.

Pengertian Teks Anekdot Menurut Para Ahli

Selain dari Wikipedia maupun KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), pengertian anekdot bisa dicari dari pendapat para ahli untuk memperdalam pemahaman mengenai teks anekdot sendiri. Berikut beberapa ahli yang memberikan pendapatnya mengenai teks anekdot:

Cuddon J.A. (1992) memberikan gagasannya mengenai teks anekdot yaitu sebuah cerita atau peristiwa atau kejadian lucu yang menarik di ceritakan berdasarkan kejadian yang sebenarnya.

Wachidah (2004:1) juga menerangkan teks anekdot jika dilihat dari tujuannya. Ia mengatakan jika teks anekdot ini bertujuan untuk menceritakan sebuah peristiwa atau kejadian yang sudah lewat. Teks anekdot ini mirip dengan teks recount.

Dananjaja (1997:11) mengatakan jika teks anekdot adalah sebuah kisah fiktif pribadi, seorang tokoh, atau beberapa tokoh yang terkenal dan diceritakan dengan cara lucu.

Lain hal dengan Muthiah (2012), menurutnya teks anekdot adalah sebuah cerita pengalaman seseorang yang menarik dan tidak biasa, lalu diceritakan ulang kepada orang lain dengan tujuan menghibur pembaca ataupun pendengarnya.

Gerot Dan Wignell menerangkan lebih rinci mengenai teks anekdot. Menurutnya, teks anekdot ini umumnya memiliki lima bagian atau lima struktur yaitu abstrak, orientasi, krisis, reaksi dan koda.

Terakhir, Wijana (1995:24) yang menyatakan jika teks anekdot adalah sebuah wacana yang bermuatan humor bertujuan untuk menyindir, melakukan kritik, bersendau gurau atau menghibur secara tidak langsung sesuai dengan kepincangan atau ketidaksesuaian suatu hal yang terjadi disekitar masyarakat.

Tujuan Teks Anekdot

Masih banyak ahli yang memberikan pendapatnya tentang teks anekdot. Namun dari beberapa ahli di atas sudah dapat disimpulkan apa sebenarnya teks anekdot itu. Teks anekdot ini adalah suatu wacana atau cerita baik fiksi atau berdasarkan kisah nyata (pengalaman) yang unik dan tidak biasa dengan penokohan tokoh terkenal maupun fiksi yang diceritakan dengan cara humor, lucu, juga menarik bertujuan untuk menyindir, melakukan kritik secara tidak langsung dan menghibur terhadap ketimpangan atau keresahan yang terjadi di sekitar masyarakat atau kehidupan sehari-hari.

Kaidah Kebahasaan Teks Anekdot

Sudah dijelaskan sebelumnya jika teks anekdot digunakan untuk melakukan sindirian atau kritikan secara halus dan tidak langsung dengan dibakut kedalam sebuah cerita lucu yang menghibur. Untuk membuat teks anekdot yang seperti demikian, ada beberapa kaidah kebahasaan teks anekdot yang harus diperhatikan, seperti:

  1. Diceritakan secara runtut mulai dari awal hingga akhir atau juga diceritakan secara kronologis sesuai urutan waktu kejadian.
  2. Teks anekdot juga menggunakan kata keterangan waktu lampau.
  3. Terdapat penggunaan kata kerja untuk menerangkan atau menjelaskan suatu kejadian. Selain kata kerja, juga digunakan kata perintah yang jelas.
  4. Menggunakan kata penghubung (konjungsi) agar cerita yang disampaikan lebih jelas dan terperinci sesuai kronologisnya.
  5. Terkadang juga memasukan unsur pertanyaan retoris. Pertanyaan retoris ini sebenarnya adalah pertanyaan yang diberikan tanpa membutuhkan jawaban atau perlu dijawab karena memang jawaban tersebut sudah sangat jelas tanpa perlu ditanyakan.

Hampir semua unsur kebahasaan yang sudah disebutkan di atas ini akan ditemukan pada sebuah teks anekdot.

Struktur Teks Anekdot

Pada bagian sebelumnya, sudah sempat disinggung bahwa teks anekdot ini memiliki lima unsur atau lima bagian yang harus ada. Unsur atau struktur ini akan membantumu untuk menuliskan sebuah teks anekdot, kelimanya adalah abstrak, orientasi, krisis, reaksi dan koda. Berikut keterangannya secara lebih rinci.

  1. Abstrakini muncul sebagai pembuka teks anekdot sebagai gambaran umum terhadap keseluruhan isi teks anekdot tersebut agar pembaca dapat memahami hal apa yang akan dijadikan humor.
  2. Orientasiadalah bagian selanjutnya yang akan menjelasakan mengenai latar belakang terjadinya cerita atau permulaan dimana dan bagaimana cerita itu akan dimulai
  3. Krisisini merupakan klimaks dari masalah yang akan di bahas pada keseluruhan cerita teks anekdot itu.
  4. Rekasimerupakan bagian yang akan memberikan penyelesaian atas terjadinya konflik atau permasalahan yang ada atau muncul di cerita.
  5. Kodaadalah bagian yang akan menceritakan tentang perubahan yang terjadi pada tokoh utama sekaligus akan menutup cerita anekdot.

Setelah memahami struktur dan juga kaidah kebahasaan dari teks anekdot, teks ini juga memiliki ciri yang berbeda dari teks lainnya.

Ciri-Ciri Teks Anekdot

Jenis teks dalam bahasa Indonesia terdapat berbagai macam dan jenis. Semuanya memiliki ciri-ciri tersendiri yang membuat teks tersebut mudah untuk diidentifikasi sebagai salah satu jenis teks. Begitu juga dengan teks anekdot yang memiliki beberapa ciri utama agar kamu dapat mengidentifikasi suatu teks anekdot dengan mudah.

  1. Teks anekdot dibuat sebagai hiburan yang akan membangkitkan tawa.
  2. Di dalam teks anekdot akan menggambarkan suatu karakter penokohan secara singkat dan ringan.
  3. Umumnya akan membawa tokoh yang sudah dikenal oleh orang banyak dan ada penggambaran dari sisi lain si tokoh tersebut dengan cara yang lucu dan menghibur.
  4. Teks anekdot dibuat untuk menyindir atau melakukan kritik secara halus.

Ciri-ciri yang telah disebutkan ini selain digunakan untuk membedakan teks anekdot dengan teks lain juga akan membantu kalian untuk membuat suatu teks anekdot yang bagus.

Bentuk-Bentuk Teks Anekdot

Meski terlihat sangat sederhana, ternyata teks anekdot ini memiliki berbagai macam bentuk dan tidak hanya berupa teks kumpulan paragraf saja. Beberapa bentuk teks anekdot yang biasa ditemui dan dibuat ini seperti:

  1. Narasiini adalah sebuah cerita yang dikembangkan melalui susunan paragraf berupa rangkaian peristiwa dari dari waktu ke waktu secara kronologis atau mulai dari awal, tengah, hingga akhir.
  2. Dramaini berupa sebuah pengisahan mengenai realita kehidupan berdasarkan watak dan tingkah laku yang diceritakan melalui gerak dan dialog yang dipentaskan.
  3. Puisiini merupakan sebuah karya sastra yang menyampaikan pesan melalui diksi dan pola tertulis tertentu.
  4. Dialogini merupakan sebuah percakapan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih.
  5. Syarit atau lirik laguadalah sebuah ungkapan ekspresi seseorang tentang suatu hal yang telah dilihat, didengar, maupun dirasakan oleh penulis dengan pemilihan diksi yang berbeda dari pada sekedar paragraph biasa.

Setelah memahami pengertian, ciri, kaidah bahasa dan bentuk teks anekdot. Selanjutnya tinggal berlatih menulis teks anekdot. Namun untuk mengasah dan memperdalam lagi pemahaman tentang teks anekdot perhatikan contoh teks anekdot dengan beberapa tema di bawah ini.

Contoh Teks Anekdot

Contoh Teks Anekdot Bersedekah

Dikisahkan pada suatu siang yang panas seorang mahasiswa sedang menunggu angkutan umum di halte bus. Mahasiswa tersebut didatangi oleh seorang pengemis. Pengemis itu hendak meminta sedekah kepada mahasiswa tersebut.“Mas, Bapak boleh minta sedekah? Kasihani Bapak ya, Mas,” pinta pengemis tersebut.Karena merasa iba, pemuda tersebut mengeluarkan dompetnya dan mengambil uang sepuluh ribuan. Ia memberikan uang sepuluh ribuan itu kepada pengemis tersebut.

“Ini Pak, ambil. Kembaliin lima ribu yah?” kata mahasiswa tersebut.

Pengemis itupun menerima uang tersebut dan memberikan kembalian kepada mahasiswa tersebut.

“Ini Mas kembalianya,” dengan menjulurkan mangkuk yang isinya uang.

Mahasiswa tersebut bingung melihat kembalian uangnya.

“Loh, Pak. Kok ini uangnya tujuh ribu?”

“Tidak apa-apa, Mas. Itung-itung saya juga sedekah ke Mas?” Pengemis itupun tersenyum dan pergi.

Mahasiswa tersebut masih benging melihat pengemis yang sudah menjauh itu.

Contoh Teks Anekdot: Sopir Taksi

Susi harus bekerja sampai larut malam di kantornya. Ketika pulang, ia memberhentikan taksi untuk mengantarnya pulang. “Kebon Jeruk ya, Pak,” ucapnya kepada sopir taksi.Sopir taksi hanya mengangguk. Selama di perjalanan tidak ada percakapan antar Susi dan sopir taksi tersebut, mungkin susi lelah bekerja hingga larut malam. Tiba-tiba susi ingat bahwa uangnya tidak cukup bayar ongkos taksi.

Susi lalu menepuk pundak sopir taksi tersebut untuk berhenti di ATM terlebih dahulu. Bukannya berhenti, sopir tersebut malah membanting setir ke kiri dank e kanan hingga akhirnya menabrak pohon.

Beruntungnya tidak ada yang terluka. Kemudian Pak sopir tersebut meminta maaf. “Bapak mengapa melakukan ini?” tanya Susi keheranan.

“Saya kaget, Bu.” Jawab sopir taksi.

“Masak ditepuk pundaknya saja sampai kaget, Pak.”

“Ini hari pertama saya menyupir taksi, Bu.”

“Selama ini, bapak kerjanya apa?” tanya Susi penasaran dengan jawaban sopir taksi itu.

“Selama 20 tahun, saya membawa mobil jenazah, Bu.”

Contoh Teks Anekdot Sosial: Jiwa sosialita

Dinda dan Winda adalah dua orang sahabat yang sudah kenal sejak masih kanak-kanan, bahkan rumah mereka berdekatan. Dinda berasal dari keluarga yang cukup berada, sedangkan Winda hanya berasal dari keluarga yang pas-pasan.Mereka sangat dekat. Selain menjadi teman sepermainan, keduanya juga berada di satu sekolah yang sama. Meski terlahir dari keluarga yang cukup berada, tapi Dinda tidak pernah memamerkan hartanya baik di hadap teman-teman ataupun di sosial media yang dia miliki.

Lain hal dengan Winda, ia sebenarnya sedikit iri dengan segala hal yang bisa Dinda miliki namun dirinya tidak. Oleh karena itu, Winda ini terkadang memanfaatkan kekayaan dan kebaikan Dinda dengan cara meminjam barang-barang Dinda.

Awalnya, Dinda sama sekali tidak masalah membantu sahabatnya tetapi semakin hari Winda ini semakin melunjak. Suatu hari saat Winda main ke kamar Dinda, ia tahu Dinda baru saja membeli baju baru karena melihat tas belanjaan yang tergeletak di lantai dekat lemari. “Din, kamu habis selesai belanja ya? Lihat dong. Sekalian pinjam ya?” pintanya pada Dinda.

“Maaf, Din. Bukannya nggak mau meminjamkan. Tapi baju itu baru saja aku beli dan bahkan belum sempat ku pakai. Masa sudah kamu pinjam dan pakai duluan.” Tolak Dinda sehalus mungkin.

“Yaelah, Din. Kan aku juga pinjam di sini. Nggak ku bawa pulang. Ayolah… pinjamkan aku bajunya sekali ini saja,” rengek Winda.

Dengan berat hati, Dinda menyerahkan baju barunya yang baru saja dibeli kemari ke Winda daripada persahabatannya rusak karena masalah kecil. Winda langsung mencoba baju baru itu.

“Sebentar ya Win, aku ambilkan minuman dan cemilan dulu untuk kita,” kata Dinda sembari melangkah kan kaki keluar kamar yang hanya di balas anggukan oleh Winda.

Tanpa pikir panjang, Winda mengambil beberapa pose foto dan mengunggahnya di Instagram. Tak berapa lama ada beberapa pemberitahuan yang masuk ke HP miliknya, ternyata teman-teman sekolahnya meninggalkan kolom komentar di foto yang baru saja ia unggah.

“Wah gila! Lu pasti pinjam bajunya Dinda lagi ya? Ini kan baju yang Dinda posting kemarin. Norak!”

“Yaelah, Win. BPJS banget sih! Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita! Haha!”

Tanpa pikir panjang, Winda langsung menghapus foto tersebut.

Contoh Teks Anekdot Penegakan Hukum: Maling Sendal

Asep baru saja selesai makan soto di tempat Pak Bambang. Setelah berbincang-bincang sebentar dengan Pak Bambang, ia memutuskan untuk segera pulang. Perjalanan dari warung Pak Bambang ke rumahnya cukup dekat dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki beberapa menit. Asep memutuskan untuk pulang ke rumah dengan berjalan kaki saja.Namun sayangnya saat di pertengahan jalan, kaki asep terserempet sepeda motor yang ugal-ugalan.

Untunglah kakinya tidak cedera. Meskipun tidak mengalami cedera, namun ia merasa sangat sedih saat memperhatikan sandal yang baru dibelinya kemarin harus putus hari ini. Ia takut dan khawatir jika harus pulang karena ibunya bisa saja memarahinya. Ibu Asep memang cukup galak apalagi sandal itu dibelikan oleh ibunya.

Ia juga tidak ingin pulang dengan keadaan tanpa sandal seperti itu.Setelah melanjutkan perjalanan beberapa saat, ia melihat ada banyak sekali sandal yang berada di depan masjid. Entah kebetulan atau Asep yang memang beruntung, ia melihat ada sepasang sandal yang sangat mirip dengan miliknya. Tanpa berpikir panjang, Asep langsung mengambil sandal tersebut dan meninggalkan sandalnya yang putus di sana.

Namun tak disangka, kesialan justru menimpa Asep. Ternyata ada seorang jamaah masjid yang mengetahuinya. Asep akhirnya dikejar warga dan diseret ke kantor polisi. Sesampainya di kantor polisi, Asep langsung diminta untuk segera mengikuti persidangan. Ketika Asep menunggu giliran ia di siding, ia melihat seorang koruptor sedang divonis oleh hakim. Koruptor itu telah korupsi sebanyak Rp 2 milyar dan dijatuhi hukuman 5 hari di penjara.

Ketika giliran Asep yang di siding, ia sangat kaget karena mendengar putusan hakim. Ia dijatuhi hukuman 5 tahun penjara. Tentu saja Asep tidak terima karena merasa diperlakukan tidak adil. Asep bingung mengapa ia yang hanya maling sandal bisa dihukum 5 tahun penjara dan koruptor yang sudah melakukan korupsi hingga Rp 2 milyar hanya dijatuhi hukuman 5 hari saja.

Hakim pun menyampaikan jika Asep mencuri sandal seharga Rp 30 ribu dan merugikan satu orang saja. sedangkan koruptor tadi korupsi sebanyak Rp 2 milyar namun jika kerugiannya dibagi-bagi ke seluruh rakyat Indonesia yang jumlahnya 200 juta orang, artinya setiap rakyat hanya rugi Rp 10 saja. Mendengar penjelasan hakim Asep merasa sangat sedih dan menyesal mengapa ia tidak jadi koruptor saja.

Contoh Teks Anekdot Pendidikan: Hewan Bersekolah

Seperti di pagi hari biasanya, kancil, kelinci, monyet, ikan, dan gajah sudah berkumpul di sekolah sebelum pelajaran di mulai. Mereka mengeluhkan pelajaran dan tugas yang selalu saja diberikan oleh si Burung Hantu sang guru. “Ah gila! Bisa-bisa semua rambut di badanku rontok karena memikirkan tugas dari, Pak Guru.” Keluh si Monyet.“Iya nih. Tugas dan pelajarannya membuat pusing.” Timpal yang lainnya. Tak berapa lama pelajaran pertamapun di mulai dan Burung Hantu sudah berada didekat mereka yang masih saja kasak-kusuk.

“Ehem! Apa yang kalian semua keluhkan itu?” tanya Burung Hantu sedikit heran mengapa anak muridnya mengeluhkan pelajaran yang dia berikan.

“Begini, Pak! Kita semua yang berada di ruangan ini keberatan dengan pelajaran yang bapak berikan,” ujar Kancil. “Bapak sendiri melihat bukan kalau kita semua di ruangan ini berbeda-beda. Tidak hanya bentuk fisik kami yang berbeda, tetapi karakter dan kemampuan kami juga berbeda. Tapi kenapa bapak selalu memaksakan kami melakukan dan mengharuskan bisa di setiap pelajaran yang bapak ajarkan?”

“Betul kata Kancil, Pak! Saya ini seorang ikan. Bagaimana saya bisa memanjat pohon yang tinggi sedang kemampuan saya ini berenang di dalam air?” celetuk Ikan.

“Kelahlian saya melompat, Pak!”

“Saya memang bisa memanjat, Pak! Tapi saya kesulitan berenang.”

Satu persatu dari mereka mengungkapkan kekesalan dan isi hati masing-masing yang hanya membuat si Burung Hantu termenung dan diam tidak bisa berkata-kata karena sadar cara mengajarnya selama ini sudah salah.

Contoh Teks Anekdot Tentang Kehidupan: Makan Rumput

Di suatu minggu pagi yang cerah, seorang kaya raya baru saja pulang dari luar kota dengan mobil barunya. Ketika ia melewati daerah tanah lapang menuju rumahnya, ia melihat di tepi jalan seorang ibu-ibu sedang duduk sambil mengunyah rumput dan memakannya. Karena penasaran, ia memberhentikan mobilnya dipinggir jalan dan keluar dari mobil untuk mendekati ibu-ibu tersebut.“Apa yang sedang ibu lakukan? Mengapa ibu memakan rumput?” tanyanya kemudian.

Sedikit ragu, Ibu itu akhirnya menjawab dengan ekspresi muram dan putus asa, “Saya sangat sedih dan miskin. Saya sudah tidak memiliki apa-apa lagi untuk dimakan. Saya putuskan memakan rumput untuk bertahan hidup.”

“Kalau begitu, ikutlah dengan saya ke rumah,” kata orang kaya itu.

“Tetapi saya memiliki tujuh orang anak, Tuan.”

“Dimana anak-anakmu itu?” tanya si Orang Kaya yang dijawab oleh Ibu itu dengan menunjuk ke tujuh anaknya yang tidak jauh dari si Ibu, diam-diam mereka sambil memperhatikan si Ibu dan Orang Kaya itu.

“Ajaklah mereka juga,” pinta si Orang Kaya.

Akhirnya, mereka semua bersama-sama menaiki mobil dan menuju ke rumah si Orang Kaya. Selama perjalanan, Ibu itu merasa terharu karena kebaikan si Orang Kaya. “Saya sangat terharu dengan kebaikan Tuan. Apa gerangan yang membuat Tuan mengundang kami semua ke rumah Tuan?” tanyanya penasaran.

Orang Kaya itu hanya menjawab,”Kebetulan rmput di rumah saya sudah panjang-panjang.”

Contoh Teks Anekdot Laki-laki playboy: Sakit

Siang itu Anggi sangat bosan. Akhirnya ia memutuskan untuk menelfon pacarnya. Kebetulan memang ada yang sedang ingin dia bicarakan dengan pacarnya itu, Deny. Setelah deringan kedua, telfonnya diangkat. Anggi langsung menyapa, “Halo, sayang. Yuk keluar! Aku bosen banget nih di rumah. Kemana saja boleh deh.”“Duh, maaf banget sayang. Aku ingin pergi juga, tapi aku sedang sakit,” ujar Deny dengan suara lemas.

“Sakit? Masa sih?” Jelas saja Anggi tidak percaya karena baru kemarin malam dia melihat Deny sedang jalan dengan cewek lain sambil bergandengan tangan mesra.

“Kamu nggak percaya sayang?” ujar Deny mencoba meyakinkan Anggi.

Sebelum menjawab, Anggi terdiam sejenak sambil berpikir. “Percaya sih, asal kamu mau aku antar sekarang ke dokter untuk periksa.” Andi mengiyakan ajakan Anggi dan mau diantar untuk periksa.

Waktu sampai di rumah sakit, Deny kaget dan bertanya ke Anggi, “Sayang, kamu bercanda ah! Masa kamu ajak aku periksa ke dokter hewan sih?”

“Nggak salah kok! Kan kamu memang buaya yang nempel sini nempel sana!” ujar Anggi geram sambil memperlihatkan foto Deny dan cewek yang kemarin digandengnya mesar. “Nggak salah dong, aku bawa kamu ke sini!”

Mendengar ucapan Anggi, Deny langsung pingsan.

Contoh Teks Anekdot Jabatan: Kursi Lupa

Di suatu siang, ada dua bocah yang tengah bercanda di bawah pohon yang rindang.Bagus         : “Anton, kita main tebak-tebakan, yuk! Kursi apa yang membuat orang lupa ingatan?”Anton         : “Kursi Goyang! Orang yang duduk di atas kursi goyang akan mengantuk dan tertidur. Saat tidur, orang kan lupa.”

Bagus         : (Tertawa) “Meski lucu, tapi jawabanmu salah.”

Anton         : “Hmm… lalu yang betul kursi apa?”

Bagus         : “Jawabannya adalah kursi DPR!”

Anton         : “ Loh, kok begitu?”

Bagus         : “Jelas, lah! Coba kamu ingat, sebelum duduk di kursi DPR, banyak caleg yang berjanji macam-macam agar masyarakat memilih mereka. Tapi setelah merasakan kursi DPR, sekejap saja mereka hilang ingatan akan janji-janjinya.”

Anton         : “Oh, iya, betul juga.”

Contoh Teks Anekdot Tentang Cinta: Cinta Itu Tidak Adil

Indra pulang dengan wajah babak-belur. Ilham yang sedang menunggunya di teras depan sampai heran kenapa sohibnya ini pulang dengan wajah lebam dan lesu, “Lu kenapa deh, Ndra? Wajah lu udah jelek makin ancur aja!” Ledek Ilham.Saat itu Indra langsung duduk di kursi kosong samping Ilham. “Cinta itu nggak adil deh, Ham. Gara-gara itu gue dapet lebam gini,” keluhnya.

“Maksud lu gimana deh, Ndra? Ga paham gue.”

“Gini deh gue ceritain, lu tahu kan si Asep sekarang jadi makin pinter karena pacarnya itu guru les?” tanya Indra yang dijawab anggukan oleh si Ilham. “Nah terus, si Ucok sekarang makin berisi aja badannya setelah punya pacar chef,” lanjut Indra.

“Lah lu jadi kaya gini karena dapat pacar petinju apa jago gulat?” tanya Ilham penasaran.

“Nggak, Ham. Pacar gue penyanyi. Merdu banget suaranya.”

“Lah terus kok muka lu bonyok gini?” Ilham semakin heran.

“Gue di pukulin sama suaminya, ham.” Ucapnya masih sambil memelas.

“Yeee, itu mah lu yang goblok!” Ilham berdiri dan tak lupa memukul kepala Indra sambil melangkah pergi.

Contoh Teks Anekdot Menyindir Mantan: Koleksi

Selepas kuliah, Ana mampir ke rumah sahabatnya Rika. Karena hari ini Rika tidak ada kelas, jadi Ana putuskan untuk pergi ke rumahnya, ada sesuatu yang harus Ana sampaikan ke sahabatnya. Rika ini dikenal cukup cantik, dia juga ramah, dan cukup berada jadi memang tidak salah jika banyak anak laki-laki di kampus naksir Rika.Hanya saja di sini masalahnya. Rika sebenarnya sudah bosan didekati banyak cowok tapi semua hanya dianggap mainan saja, akhirnya Rika dikenal sebagai cewek gampangan yang suka mengkoleksi mantan. Sebenarnya, Ana sudah sering menasehati Rika namun dia tidak pernah mendengar dan selalu berkelit kalau bukan dia yang memulainya tapi para cowok itu duluan.

Sebenarnya Ana tidak lagi ingin ambil pusing asal sahabatnya tidak melakukan sesuatu diluar norma. Tapi saat tadi di kampus, Ana tidak sengaja mendenger banyak teman cewek menebar gosip tidak benar yang semakin parah, Rika open booking dan hanya memanfaatkan cowok yang mau jadi pacarnya, malah lebih parah jika target selanjutnya adalah dosen dan petinggi kampus.

“Rik, kamu mau kemana?” tanya Ana yang sudah berdiri di ambang pintu kamar Rika.

“Mau jalan dengan Dony,” jawabnya acuh sambil memperbaiki riasan di wajahnya.

“Jadi? Udah putus sama yang kemarin dan mau jalan sama Dony?” tanya Ana yang hanya ditanggapi dengan anggukan. “Kapan sih Rik kamu mau berhenti? Setiap ada yang mendekati kamu iya aja? Banyak temen di kampus yang ngomongin kamu dan bikin gosip sembarangan.”

“Kan memang sudah biasa, Na. Aku aja udah ga pikirin. Kan kamu juga tahu yang dekati bukan aku duluan,” jawab Rika sekenanya.

“Tapi yang ini udah keterlaluan banget,” sanggah Ana yang sudah geram melihat respon sahabatnya. Ana maju mendekati Rika dan menepuk bahunya, “Hari ini gue denger gosip lu open BO dan target selanjutnya dosen sama pejabat kampus. Kalau lu ga bisa menghargai diri lu sendiri seenggaknya hargai orang sekitar lu yang peduli dan ga mau lu dicap buruk. Dah ya gue pulang.”

Ana akhirnya menyerah dan berjalan keluar kamar Rika. Sebelum keluar, Ana menyeletuk, ” Koleksi lipstik lu banyak, ya? Kaya mantan lu!”

Contoh Teks Anekdot Menyindir Teman: Bayar Hutang

Satya sedang asyik memakan bakso yang baru dipesannya sampai si pengganggu tukang pinjam uang datang menghampiri dan duduk didepannya, Roni. Hampir seluruh teman seangkatannya tahu kalau Roni ini suka sekali pinjam uang dengan berbagai macam alasan yang ujung-ujungnya setiap uang yang dipinjam tidak pernah dikembalikan. Tapi  tetap saja, Roni tebal muka dan mencari pinjaman kesana-kemari.Tanpa menghiraukan kehadiran Roni, Satya tetep fokus makan dan bersumpah tidak akan meminjamkan uang sepeserpun meski Roni sujud-sujud memojon. Benar saja, tak selang lama Roni mengutarakan maksud kedatangannya, “Bro! Pinjam duit dong. Buat makan. Lu kan tahu ini masih tengah bulan. Duit gue habis. Lima ratus ribu doang. Awal bulan gue balikin deh. Janji!”

Sambil menahan emosi, Satya menimpali. “Gila ya lu, duit gue yang 200 ribu lu pinjem aja belum lu balikin. Sekarang lu mau pinjem lagi.”

“Yaelah, Bro. Kan itu udah lama. Ikhlasin ajalah ya. Atau gini deh, gue pinjem 500 ribu dulu besok gue balikin sekalian sama yang 200 ribu itu,” kata Roni memelas.

Sebenernya Satya sudah sangat geram dan sama sekali tidak ingin menimpali Roni. Tapi jika tidak diberi pelajaran, Roni pasti akan terus mengganggunya. Sambil menghela napas, Satya akhirnya setuju, “Oke deh. Tapi ada syaratnya. Tinggal lu sanggup apa nggak.”

“Oke deh. Gue turutin syaratnya asal lu mau pinjemin gue uang.”

“Besok pagi, lu ke kos gue. Gue kasih tahu syaratnya apa.”

Esok paginya sekitar pukul 10, Roni sudah sampai di kos Satya yang sudah menunggu Roni. “Lu bersihin dulu kos gue. Nyapu, ngepel, cuci baju semua deh lu bersihin. Gue mau keluar dulu sebentar. Sampai gue balik, semua kerjaan lu udah harus selesai.”

Ogah-ogahan, Roni mengerjakan seluruh perintah Satya sampai kosan itu bersih. Karena kelelahan, Roni menunggu Satya sampai ketiduran di lantai. Tak lama Satya pulang dan melihat keadaan Roni. Setelah memeriksa kamar kosnya, ia duduk di depan sambil menunggu Roni bangun.

Tak lama Roni bangun dan melihat Satya sedang duduk sambil merokok di kursi depan. Ia menghampiri Satya dan duduk di kursi kosong. “Udah gue penuih semua syarat yang lu kasih. Kamar kosan lu udah bersih! Sekarang pinjemin gue uangnya, Sat.”

Satya tersenyum tipis. “Gini ya Ron, kan kemarin lu udah pinjem gue duit 200 ribu. Nah anggap aja deh yang lu lakuin hari ini buat bayar utang lu yang kemarin,” ucap Satya sambil berdiri dan mengunci kamar kosnya.

Sebelum pergi, ia menepuk bahu Roni. “Nih ada nasi bungkus sama es teh, thanks ya lu udah mau bersihin kamar kos ini.”

Roni hanya mematung sambil bengong melihat Satya yang melangkah pergi.

Contoh Teks Anekdot Tentang Sekolah: Rumah Kedua

Pagi hari di kelas X sama seperti hari-hari biasanya. Jam pelajaran akan dimulai 10 menit lagi. Danang datang tergesa-gesa langsung menuju ke bangku teman-temannya. “Anton! Pinjemin gue PR Matematika dong. Gue belum ngerjain nih!” pintanya pada Anton yang memang terkenal otaknya lumayan encer dan rajin di anatara temannya yang lain.“Nggak ah! Keseringan banget lu pinjem PR gue. Lu pasti begadang nge-game lagi kan semalam?” tuduh Anton yang memang tahu kebiasan si Danang ini.

“Aelah, lu kaya nggak tahu gue aja,” ujarnya sambil nyengir. “Lu pinjemin gue PR. Nanti gue kasih kenal adek sepupu gue yang cantik itu. Lu naksir kan? Nggak usah bohong sama gue!”

Karena Anton memang naksir dengan adik sepupu Danang yang juga bersekolah di sana, Anto meminjamkan buku PR-nya. “Nih, ini yang terakhir ya! Awas sampai lu lupa sama ucapan lu barusan.”

Tanpa basa-basi, Danang langsung mengambil buku PR milik Anton dan bergegas ke mejanya. Dia langsung menyalin PR Anton ke buku PR miliknya. Tanpa sadar bel pelajaran berbunyi tapi Danang yang fokus menyalin PR sama sekali tidak mendengar.

Bu Ani, Guru Matematika sudah masuk ke kelas dan melihat Danang. Seperti dugaannya karena yang sudah-sudah, Danang sempat ketahuan menyalin PR dari temannya. “Enak sekali kamu, Danang. Tinggal salin pekerjaan temanmu. PR itu seharusnya dikerjakan di rumah, kan namanya Pekerjaan Rumah bukan pekerjaan sekolah!”

Danang yang kaget mendengar suara Bu Ani langsung berdiri dan nyengir lebar, “Kan sekolah rumah kedua saya, Bu.” Jawabnya cengengesan sambil diikuti gelak tawa teman yang lain.

Contoh Teks Anekdot Lingkungan: Buang Sampah

Singapura termasuk salah satu negara yang paling bersih di dunia. Siapapun yang membuang sampah sembarangan bisa didenda meskipun hanya membuang punting rokok. Suatu ketika Azam sedang berlibur, tetapi tampaknya ia tak tahu akan adanya peraturan itu.Ia merokok sendirian sambil duduk dibangku. Karena rokoknya sudah habis, ia membuang punting rokoknya begitu saja dan jatuh persis di sisi kaki kanannya.

Tanpa disangka-sangka, tiba-tiba datang petugas dan menegur Azam dengan suara tegas.

“Tahukah Anda bahwa Anda telah melakukan pelanggaran?”

“Tidak tahu. Apa gerangan pelanggaran yang telah saya perbuat?” jawab Azam.

“Anda telah membuang sampah sembarangan, yaitu punting rokok,” tegas petugas itu.

Dengan sigap Azam menjawab, “Oh, maaf terjatuh.”

Lalu diambilnya punting rokok itu serta langsung diisapnya lagi. Petugas itu hanya terbelalak keheranan. Kemudian ia pergi meninggalkan Azam.

Contoh Teks Anekdot Singkat: Minum Racun Serangga

Seperti di hari Minggu biasanya, RT. 18 selalu mengadakan kegiatan rutin kerja bakti. Selain untuk menjaga kebersihan desa dan lingkungan sekitar, kerja bakti ini diadakan agar para warga bisa saling bersosialisasi dan saling mengenal.Tak lama, terdengar suara seorang anak laki-laki berlari tergesa-gesa. Ternyata itu adalah Rudi, anak dari Pak Saleh yang kala itu sedang berbincang dengan warga selepas membersihkan saluran air desa. Dengan wajah memerah dan suara napas tersengal, Rudi sampai di hadapan ayahnya, “Pak, Imran. Imran, Pak!”

Imran ini adalah anak kedua dari Rudi yang jarak umurnya tidak begitu jauh. “Imran kenapa, Di?” tanya Ibunya yang sedang membantu menyiapkan makanan untuk warga.

“Betul, Imran kenapa? Ayo bicara pelan-pelan.” Tanya Pak Saleh menimpali.

Sambil mengatur napas, Rudi menceritakan kejadian yang baru saja terjadi. “Imran, tidak sengaja makan ulat bulu, Pak!”

“Kok bisa, Di! Ibukan minta kamu jaga adikmu itu,” jawab Ibunya sedikit panik. “Pak, ayo lekas pulang dan bawa Imran ke rumah sakit!” desak si Ibu kepada suaminya.

Dengan wajah tenang dan merasa sudah menyelesaikak masalah, Rudi menambahkan, “Ah, Ibu nggak perlu cemas! Sekarang pasti ulat bulunya sudah mati. Tadi Rudi sudah suruh Imran minum racun serangga biar ulat bulu di perutnya mati.”

Mendengar itu, Ibu Rudi berteriak histeris dan pingsan. Sedang Pak Saleh langsung berlari pulang. Rudi sendiri hanya menatap bingung tidak tahu apa kesalahannya.

Contoh Teks Anekdot Dialog: Tertelan Uang

Seorang ibu terlihat gusar dan panik sambil berdiri di depan ruang rumah sakit. Ia sedang menunggui anaknya yang barus aja mengalami insiden. Karena khawatir dan takut terjadi apa-apa lebih lanjut, ia coba menghubungi suaminya.“Halo, Pak,” ucapnya langsung saat telfonnya diangkat. “Pak, Bapak cepat ke RS Indah. Candra masuk rumah sakit, Pak.”

Suaminya yang sedang bekerja terkejut, “ Masuk rumah sakit? Kok bisa, Bu? Memang Candra kenapa?” tanya si Suami sedikit cemas.

“Candra tidak sengaja menelan uang, Pak. Sekarang sedang ditangani dokter.”

“Berapa uang yang tertelan, Bu?”

“Limaratus perak, Pak.”

“Ah! Cuma limaratus perak. Kirain 500 juta!” ucap suaminya dengan nada lega.

Begitu mendengar itu, si Istri langsung minta cerai saat itu juga.

Contoh Teks Anekdot Menyindir Guru: Guru adalah Panutan

Ada seorang anak yang nakal dan terkenal bandel di sekolah namanya Ridwan. Selain datang terlambat, ia juga sering merokok di gedung belakang sekolah yang sepi. Sebagai ketua Osis, sudah tugas Anas untuk memperingatkan Ridwan yang sudah meresahkan beberapa siswa.“Wan! Bisa tidak kamu merokoknya tidak di sekolah ini?” ujarnya menegur Ridwan. “Banyak yang resah dengan sikapmu ini, jangan sampai guru-guru tahu dan kamu mendapat hukuman berat dari sekolah.”

“Alah, sok tegas banget sih jadi ketua osis!” ucap Ridwan yang memang saat itu moodnya sedang jelek. Dia berdiri dan membuang puntung rokoknya. Sambil berlajan melewati Anas, ia melancangkan satu tinju kuat tepat dibagian perut sampai membuat Anas terduduk dan batuk-batuk. Anas tidak membalas dan hanya melaporkannya kepada guru.

Akhirnya Ridwan dipanggil oleh Guru BK untuk menghadap, “Apa yang sudah kamu lakukan ini salah Ridwan. Lebih tepatnya ada tiga kesalahan fatal yang sudah kamu perbuat! Pertama kamu sering bolos pelajaran, kedua kamu diam-diam merokok di lingkungan sekolah dan ketiga kamu memukul temanmu sendiri!” bentak guru BK.

“Loh, apa saya salah saya, Pak?” ucap Ridwan membela dirinya. “Saya hanya mengikuti guru yang harus dijadikan panutan. Saya selalu melihat Bapak merokok di ruangan ini saat jam istirahat, Bapak juga sering memukul murid lain padahal kesalahannya tidak fatal. Bapak juga sering datang terlambat karena mampir ngopi di warung janda desa sebelah.”

Guru BK itu hanya melongo. Keesokan harinya, ia langsung mengundurkan diri dari sekolah.

Contoh Teks Anekdot Narasi: Jangan Merokok

Di pagi hari, Andi berjalan menuju sebuah halte bus dimana orang-orang sedang menunggu bus untuk pergi ke tempat kerjanya masing-masing. Setelah sampai di halte bus tersebut, dia bertanya kepada seorang buruh pabrik yang sedang menunggu bus Kopaja sambil merokok.Lalu Andi memulai percakapan, “Haduh, tebal dan jorok sekali bus Mayasari Bakti,” ucapnya.

Buruh pabrik tersebut merespon ucapan Andi, “Iya nih. Asap Kopaja juga tebal.”

“Bagaimaa tanggapan Bapak jika melihat orang yang menyebabkan polusi dari asap bus itu?” tanya Andi kepada buruh pabrik.

“Hajar saja tuh orang!” jawab buruh pabrik menjawab pertanyaan Andi. Tiba-tiba, Andi langsung menghajar buruh pabrik itu. Sebelum berdiri dan melangka pergi, Andi memberikan sebuah brosur dengan tulisan yang sangat besar.

Andi berjalan tidak jauh dari halte itu dan melihat seorang karyawan swasta yang juga sedang menunggu bus sambil merokok dan memperhatikan ramainya jalanan kota. Lagi-lagi Andi memulai percakapan yang mirip dengan karyawan swasta tersebut, “Haduh tebal sekali asap kendaraan di Jakarta ini! Padahal kendaraan di Jakarta sudah diwajibkan melakukan uji emisi sebelum dizinkan beroperasi,” ucapnya memulai obrolan.

“Iya nih. Pantas saja terjadi Global Warming,” kata karyawan tersebut merespon ucapan Andi.

Andi lagi-lagi melontarkan pernyataan yang sama, “ Bagaimana respon Anda, Pak terhadap orang yang membuat polusi lebih dari asap kendaraan?”

Sebelum menjawab, si karyawan swasta itu berpikir sejenak. “Kalau penyebabnya itu pabrik, bakar saja! kalau penyebabnya manusia, ya langsung tampar saja biar dia sadar!” ucapnya kemudian.

Lalu Andi menampar orang tersebut dan memberi brosur kepada orang tersebut. Ternuata brosur tersebut bertuliskan:

“ASAP ROKOK MENGANDUNG POLUTAN 10 KALI LEBIH BANYAK DARI MESIN DIESEL”

Contoh Teks Anekdot Lucu dan Menyindir: Kena Tilang

Suatu pagi, Indah terburu-buru berangkat ke kantor karena bangun kesiangan. Tinggal 10 menit lagi sebelum jam masuk kantornya. Jika terlambat, lagi-lagi gajinya harus dipotong. Setelah bersiap seadanya, ia langsung mengemas tas dan kunci motor yang diletakan di atas meja.Sambil berpamitan, ia langsung pergi ke halaman rumah dan menyalakan sepeda motornya yang memang terparkir di sana. Dengan sigap, ia langsung menyalakan motor dan langsung ngacir pergi ke kantor. Sebenarnya, ini bukan kali pertama untuk Indah bangun kesiangan dan harus buru-buru saat berangkat ke kantor. Hanya saja, sepertinya hari ini ada kesialan yang juga sedang menantinya.

Saat mendekati lampu merah, Indah baru sadar kalau ia tidak mengenakan helm, padahal dia tahu benar kalau lampu merah didepan itu sangat terkenal dengan polisi yang sangat galak. Di dalam hati ia berharap mendapatkan lampu hijau sehingga bisa langsung ngebut dan mungkin polisi tersebut malas mengejarnya.

Sial sekali sepertinya! Ia mendapatkan lampu merah. Perasaan sudah campur aduk. Dag dig dug. Ia bingung harus berhenti atau langsung terobos saja lampu merah itu. Karena sudah sangat terlambat dan pikirannya kacau, akhirnya Indah putuskan untuk langsung menerobos saja!

Banyak pengendara yang memaki perilakunya karena tindakan itu cukup berbahaya meski untungnya Indah selamat. Meski demikian, tanpa ia sadari ternyata di belakangnya sudah ada polisi yang mengejar dengan motor. Sekencang-kencangnya, Indah memacu gas motornya tetapi kalah kencang dengan motor polisi tersebut. Seperti biasa, Polisi yang mengejarnya menyuruh Indah untuk menepi. Sungguh sial! Sudah terlambat, dimaki banyak orang, sekarang harus kena tilang.

“Selamat pagi, Mba. Apakah Mba tahu apa yang sudah dillangar pagi ini?” tanya Polisi tadi setelah melepas helm dan berdiri di samping Indah.

“Tahu, Pak. Maaf. Tapi saya terburu-buru.” Ucapnya memelas.

“Semua orang juga terburu-buru, Mba. Ini Mba sudah nggak pakai helm dan melanggar lampu merah. Mau ditilang di sini atau pergi sidang saja?”

“Lah, Bapak juga melanggar lampu merah dong karena mengejar saya,” ujar Indah berusaha mengelak.

“Saya kan memang sedang bertugas menertibakan pengendara, salah satunya yang melakukan pengejaran ini diperbolehkan, Mba.” Jelas Polisi itu.

Indah masih berusaha memprotes, “Nggak adil dong, Pak. Nyatanya saya sering lihat polisi melanggar lampu merah padahal tidak mengejar siapa-siapa.”

“Kalau masnya tidak menurut, itu sama saja dengan melawan petugas dan dendanya bisa berkali-kali lipat. Ini Mba mau disidang atau bayar saja di sini? Kalau bayar di sini Rp 100 ribu saja lalu Mba boleh lanjutkan perjalanan.”

“Bapak ini nyari-nyari saja deh! Saya nggak punya uang, Pak! Biasanya saya melanggar lampu merah juga nggak ada yang mengejar kok. Ini tumben banget! Hati-hati, Bapak sedang melakukan pungli loh terhadap saya.”

“Yah, makanya kalau ingin melanggar lihat-lihat tanggal dong, Mba! Ini tanggal tua tau. Sudah deh, daripada repot lebih baik Mba ke pengadilan saja!”

“Bayar di sini saja deh, Pak! Seratus ribu kan ya?” ucap Indah akhirnya meski sedikit dongkol.

“Nggak Mba. Jadi Rp 250 ribu atau ke pengadilan saja.”

“Yaudah deh, Pak. Ke pengadilan saja!”

“Hmm… seratus ribu saja deh!” ucap Polisi itu akhirnya.

Contoh Teks Anekdot Kehidupan: Kita Orang Kaya

Pagi itu seperti biasanya, Pak Andi berkeliling komplek untuk mencari barang-barang bekas yang ditinggalakan di tempat sampah atau pembuangan yang sekiranya bisa untuk dijual kembali seperti botol plastik, gelas plastik, dan lainnya.Tiba-tiba salah seorang istri dan suami bersama anaknya yang sedang mengendarai mobil mainan melintas di dekat Pak Andi. Sayup-sayup Pak Andi sempat mendengar percakapan suami istri tersebut yang membicarakan dirinya.

“Ih kalau Mamah jadi isterinya sih nggak mau! Miskin, kerjaannya korek tempat sampah,” bisik istrinya ke si suami.

“Haha! Papa juga nggak mau. Tapi tenang, mah. Papa nggak mungkin kerja seperti itu. Kan kita orang kaya.”

Bagi Pak Andi, sudah biasa ada orang yang menghinanya. Jadi tak dipikirkan apalagi dimasukan ke dalam hati. GUBRAAAK!!! Suara benturan keras membuat Pak Andi menoleh ke sumber suara yang ternyata adalah anak suami istri tadi menabrak pohon dan terjatuh sampai salah satu ban mobilnya terlepas.

Suami-istri itu tergopoh-gopoh mendekati si anak yang menangis. “Mamah! Papa! Mobil-mobilanku rusak,” tangisnya keras.

Si suami itu kebingungan bagaimana caranya dia memperbaiki satu ban mobil yang terlepas saat mendapati semua bautnya hilang, sedang dibutuhkan empat baut untuk memasang ban tersebut. Pak Andi yang penasaran mendekat dan bertanya, “Ada apa, Pak?”

Pasangan suami-istri tersebut tidak terlalu memperhatikan sumber suara karena terlalu fokus menghentikan tangis anaknya dan mencari cara bagaimana memperbaiki mainan itu. “Saya mau pasang lagi ban mobil ini tapi bautnya terlepas dan hilang satu, Pak!”

“Loh, bapak kan bisa ambil masing-masing satu baut dari setiap roda. Bapak jadi punya tiga baut. Nah, nanti bapak tinggal beli baut yang kurang. Dengan tiga baut, bapak sudah bisa pasang ban dan mobil ini bisa berjalan untuk sementara,” jelas Pak Andi.

“Ah, benar juga, Pak. Terima kasih,” ucap si suami sambil memalingkan wajah kea rah suara dan kaget saat mendapati pemulung yang dia sindir tadi. “Ternyata bapak pintar,” ucapnya salah tingkah.

Pak Andi hanya tersenyum, “Saya memang miskin dan hanya seorang pemulung. Tapi saya tidak bodoh seperti bapak.”

Contoh Teks Anekdot: Ingin Jadi Cantik

Fifi adalah seorang gadis yang tomboy. Sangat tomboy sampai ia memotong cepak rambutnya seperti anak laki-laki. Ia juga tidak begitu peduli dengan penampilannya yang lebih sering terlihat lusuh. Ibunya hampir setiap hari menasehati Fifi untuk paling tidak memperhatikan penampilannya agar terlihat sedikit lebih feminim, bersih, dan rapi. Tapi Fifi sama sekali tak ingin menggubris Ibunya.Sampai suatu hari, ada anak baru datang ke kelasnya. Pipi Fifi langsung merona saat melihat anak baru itu. Namanya, Wisnu dan cukup tampan, tinggi, serta putih. Tapi begitu menyadari teman dikelasnya yang lebih cantik darinya juga mengagumi Wisnu, Fifi diam dan memilih mundur.

Sebenarnya, Fifi cuek dengan penampilannya bukan sepenuhnya karena dia malu. Tetapi karena minder dan takut diejek. Jadi dia pura-pura cuek dan tidak peduli. Sampai akhirnya sahabat dekatnya menasehatinya, “Ya kalau kamu suka Wisnu berjuang dong. Kalau minder dengan yang lain coba ubah penampilanmu sedikit. Kamu itu manis cuma nggak Pe-De aja,” nasehat temannya.

“Ya makanya aku dating ke rumahmu minta kamu ajarin mengurus penampilanku yang sudah buluk ini,” kata Fifi.

“Oh jadi kamu ingin jadi cantik karena jatuh cinta ya?” ujar temannya yang membuat wajah Fifi merona. “Selain penampilan, ada yang harus kamu ubah juga. Yaitu perilaku dan hatimu. Bukan hanya pada teman atau orang disekitarmu. Tapi juga Tuhan.”

Fifi merenung sebentar lalu berdiri sambil berkata, “Aku sholat dulu deh.”

Temannya hanya tersenyum melihat tingkah Fifi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *